Dalam masyarakat ditemukan berbagai individu atau kelompok yang berasal dari budaya berbeda, demikian pula dalam pendidikan, diversitas tersebut tidak bisa dielakkan. Diversitas budaya itu bisa ditemukan di kalangan peserta didik maupun para master yang terlibat - secara langsung atau tidak-dalam satu expositions pendidikan. Diversitas itu juga bisa ditemukan melalui pengkayaan budaya-budaya lain yang ada dan berkembang dalam konstelasi budaya, lokal, nasional dan worldwide. Diversitas budaya ini akan mungkin tercapai dalam pendidikan jika pendidikan itu sendiri mengakui keragaman yang ada, bersikap terbuka (openess) dan memberi ruang kepada setiap perbedaan yang ada untuk terlibat dalam satu expositions pendidikan. Dalam pelaksanaannya, Banks menjelaskan lima dimensi yang harus ada yaitu,
- pertama, adanya integrasi pendidikan dalam kurikulum (content incorporation) yang didalamnya melibatkan keragaman dalam satu kultur pendidikan yang tujuan utamanya adalah menghapus prasangka.
- Kedua, konstruksi ilmu pengetahuan (information development) yang diwujudkan dengan mengetahui dan memahami secara komperhensif keragaman yang ada.
- Ketiga, pengurangan prasangka (partiality diminishment) yang lahir dari interaksi antar keragaman dalam kultur pendidikan.
- Keempat, pedagogik kesetaraan manusia (value teaching method) yang memberi ruang dan kesempatan yang sama kepada setiap elemen yang beragam.
- Kelima, pemberdayaan kebudayaan sekolah (engaging school society). Hal yang kelima ini adalah tujuan dari pendidikan multikultur yaitu agar sekolah menjadi elemen pengentas sosial (transformasi sosial) dari struktur masyarakat yang timpang kepada struktur yang berkeadilan.
Dalam sebuah dialog tentang pendidikan Islam, berlangsung di Beirut (Lebanon) tanggal 13-14 Desember 2002 yang diselenggarakan oleh Konrad Adenauer Stiftung, ternyata disepakati adanya berbagai corak pendidikan agama, hal ini juga berlaku untuk pendidikan Islam. Walaupun ada beberapa orang yang terus terang mengakui, maupun yang menganggap pendidikan Islam yang benar haruslah mengajarkan ajaran formal tentang Islam. Diskusi tentang mewujudkan pendidikan Islam yang benar memang terjadi, tapi tidak ada seorang peserta-play on words yang menafikan dan mengingkari peranan berbagai corak pendidikan Islam yang telah ada.[4].
Penyelenggaraan pendidikan Islam di negeri manapun, tidak hanya di sampaikan dalam ajaran-ajaran formal Islam di sekolah-sekolah agama/madrasah belaka, melainkan juga melalui sekolah-sekolah non-agama yang berserak diseluruh penjuru dunia. Demikian juga, semangat menjalankan ajaran Islam, datangnya lebih banyak dari komunikasi di luar sekolah, antara berbagai komponen masyarakat Islam.
Hal lain yang harus diterima sebagai kenyataan hidup kaum muslimin di mana-mana, adalah respon umat Islam terhadap tantangan modernisasi, seperti pengentasan kemiskinan, pelestarian lingkungan hidup dan sebagainya, adalah respon yang tak kalah bermanfaatnya bagi pendidikan Islam, yang perlu kita renungkan secara mendalam.
Pendidikan Islam, tentu saja harus sanggup meluruskan responsi terhadap tantangan modernisasi itu, namun kesadaran kepada hal itu justru belum ada dalam pendidikan Islam di mana-mana. Hal inilah yg merisaukan hati Gus Dur, karena ujungnya adalah diperlukan jawaban yang benar atas pernyataan berikut: Bagaimanakah caranya membuat kesadaran struktural sebagai bagian characteristic dari perkembangan pendidikan Islam? Dengan ungkapan lain, kita harus menyimak perkembangan pendidikan Islam di berbagai tempat, dan membuat peta yang jelas tentang konfigurasi pendidikan Islam itu sendiri. Ini merupakan pekerjaan rumah, yang mau tak mau harus ditangani dengan baik. Jelas dari uraian diatas,
pendidikan Islam memiliki begitu banyak model pengajaran baik yang berupa pendidikan sekolah, maupun pendidikan non-formal seperti pengajian, arisan dan sebagainya. Ketidakmampuan memahami kenyataan keberagaman ini, yaitu hanya melihat lembaga pendidikan formal seperti sekolah dan madrasah di tanah air sebagai sebuah institusi pendidikan Islam, hanyalah akan mempersempit pandangan kita tentang pendidikan Islam itu sendiri.
Ini berarti, kita hanya mementingkan satu sisi belaka dari pendidikan Islam, dan melupakan sisi non-formal dari pendidikan Islam itu sendiri. Tentu saja menjadi berat tugas para perencana pendidikan Islam, kenyataan ini menunjukkan di sinilah terletak lokasi perjuangan pendidikan Islam.
Senada dengan apa yang disampaikan oleh Gus Dur, banyak pemikir yang menyampaikan hal yang sama, diantaranya adalah Kamrani Buseri, menurutnya, pada dasarnya pendidikan Islam adalah upaya untuk mencapai kemajuan perkembangan bagi individu peserta didik.
Dalam Islam yang disebut kemajuan itu adalah mencakup kemajuan fisik material dan kemajuan mental spritual yang keduanya ditujukan untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat"[5]. Oleh karena itu. pendidikan Islam harus menghasilkan manusia yang beriman, berpengetahuan dan berketerampilan dengan senantiasa memodifikasi diri agar sesuai dan sejalan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Hanya pendidikan yang megemban tugas ganda secara proporsional yang mampu mewujudkan kejayaan peradaban secara hakiki. Keimanan menjadi kendali bagi moral seseorang dalam aktivitas pemanfaatan pengetahuan dan keterampilannya, sehingga dapat meredam keinginan-keinginan jahat.
sebaliknya ia selalu mendorong seseorang untuk melakukan kebaikan atau perbuatan-perbuatan bermanfaat. Menurut Gus Dur, sistem pendidikan nasional harus diubah dengan pendidikan berbasis masyarakat. Sebab sistem pendidikan kita sekarang hanya formal. Orang tidak punya ijazah tidak dipakai, padahal banyak warga masyarakat yang tidak berijazah tapi memiliki kemampuan. Termasuk pendidikan pesantren yang sudah sekian tahun mengaji tapi tidak pernah dihargai, paparnya.[6].
Bukti sejarah mengatakan, di tengah pergolakan perjuangan bangsa, pesantren tetap memperlihatkan keberadaannya sebagai lembaga pendidikan yang mempersiapkan kader-kader bangsa dalam menyokong pergerakan kemerdekaan.
Engine gerakan PKI di tahun 1965-1966, salah satunya adalah komponen pesantren. Kemudian, sejak 1970-a kita melihat perubahan konfigurasi kelas menengah di Indonesia, salah satu pendorong utamanya adalah kelompok santri. Sehingga sampai saat ini, di pentas nasional, kita mengenal Gus Dur, Nurcholish Madjid, Hidayat Nurwahid, Din Syamsuddin, Hasyim Muzadi, Emha Ainun Najib, Ali Yafie, Quraish Shihab dan banyak lagi tokoh lain yang merupakan lulusan dari pendidikan pesantren.
Graduated class pesantren yang disebutkan di atas telah menjadi pelopor bukan saja di bidang keagamaan, tetapi juga menjadi bahagian dari pembangunan bangsa di berbagai bidang.
Gus Dur melihat pondok pesantren dari berbagai sudut. Pondok pesantren sebagai lembaga kultural yang menggunakan simbol-simbol budaya jawa; sebagai agen pembaharuan yang memeperkenalkan gagasan pembangunan pedesaan (country advancement); sebagai pusat kegiatan belajar masyarakat (focal point of group learning); dan juga pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam yang bersandar pada silabi, yang dibawakan oleh Imam Al-Suyuti lebih dari 500 tahun-nan yang lalu, dalam Itman al-dirayah.
Silabi inilah yang menjadi dasar acuan pondok pesantren tradisional selama ini, dengan pengembangan kajian Islam yang terbagi dalam 14 macam disiplin ilmu yang kita kenal sekarang ini, dari nahwu/tata bahasa Bedouin klasik hingga tafsir al-Qur'an dan teks hadist nabi, semuanya dipelajari dalam lingkungan pondok pesantren sebagai sebuah lembaga pendidikan Islam.
Melalui pondok pesantren juga nilai ke-Islam-a ditularkan dari generasi ke generasi. Sudah tentu, cara penularan seperti itu merupakan titik sambung pengetahuan tentang Islam secara rinci, dari generasi ke generasi.
Di satu sisi, ajaran-ajaran formal Islam dipertahankan sebagai sebuah keharusan yang diterima kaum muslimin diberbagai penjuru dunia. Tetapi, disini juga terdapat benih-benih perubahan, yang membedakan antara kaum muslimin di sebuah kawasan dengan kaum muslimin lainnya dari kawasan yang lain pula. Tentang perbedaan antara kaum muslimin di suatu kawasan ini,
Gus Dur pernah mengajukan sebuah makalah kepada Universitas PBB di Tokyo pada tahun 1980-an. Tentang perlu adanya study kawasan tentang Islam di lingkungan Afrika Hitam, budaya Afrika Utara dan negeri-negeri Arab, budaya Turki-Persia-Afghan, budaya Islam di Asia Selatan, budaya Islam di Asia Tenggara dan budaya minoritas muslim di kawasan-kawasan industri maju.
Sudah tentu, kajian kawasan (region study's) ini diteliti bersamaan dengan kajian Islam klasik (classiccal Islamic study's)[8].
Belum ada tanggapan untuk "Konsep dan Tujuan Pendidikan Menurut Islam"
Posting Komentar